|
|
|
 |
|
s a n g g a r - o r
i g a m i |
|
|
Mungil, Cantik
Sumber: Jawa Pos, 13/8/2004
SURABAYA - Origami atau seni lipat kertas ternyata memang gampang-gampang
susah. Untuk menciptakan karya seni asal negeri sakura tersebut membutuhkan
ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Selain ukuran kertas yang kecil,
perpaduan warna yang dihasilkan juga harus bisa menimbulkan kesan menarik.
|
|
|
|
|
Seperti
yang dialami Cintya Rulli saat mengikuti Yukata Event di Nihon Indonesia
Exchange (NICE) Center, kemarin. Siswa kelas dua SMA Petra 5 ini kesulitan
membuat boneka pengantin Jepang berukuran 7x1 cm. Beberapa kali dia harus
mengulang lipatan kertasnya karena boneka yang terbentuk terlalu gemuk. "Waduh,
bonekaku kegemukan," keluhnya.
Hashiyama Kayoko, salah seorang pengajar di NICE Center menjelaskan bahwa
origami jenis ini masuk kategori tingkat kesulitan menengah. Karena itu, dia
menganggap wajar kalau peserta Yukata Event banyak yang mengalami kesulitan.
Namun, setelah menghabiskan waktu dan berkutat dengan lipatan-lipatan,
akhirnya para peserta berhasil menyelesaikan bonekanya masing-masing dengan
baik. "Tuh kan bisa, bagus-bagus lagi," ujar Hashiyama.
Kreasi boneka pengantin yang dibuat oleh Cintya pun akhirnya bisa selesai.
Boneka pipih itu kemudian ditempelkan pada tempat sumpit sebagai elemen
penghias. Hal yang sama juga terjadi pada Rahma. Awalnya, boneka yang dia
hasilkan dari lipatan kertas terlalu gemuk, sehingga tidak muat untuk diberi
obi atau stagen. Dengan sabar, Rahma harus mengulang lipatan origaminya
kembali.
Sementara itu, demo cara pemakian yukata secara benar juga tak kalah heboh.
Para peserta yang keseluruhan remaja putri ini menyimak langkah demi langkah
pemakaian yukata. Sambil memakaikan yukata pada Takahashi (model), Hashimata
menjelaskan aturan pemakaian yukata. "Awas jangan terbalik. Yang di kanan
harus berada di bawah bagian kiri," terangnya. Sebab, pemakaian yukata
secara terbalik dapat berarti fatal. Yukata dengan bagian kanan di atas
bagian kiri hanya lazim dipakaikan pada orang yang telah meninggal. Meski
begitu, Hashiyama mengakui banyak orang Jepang yang lupa dengan aturan ini.
Dalam kesempatan ini, para peserta juga diberi kesempatan untuk memakai
yukata mereka pilihan mereka sendiri. "Wah, jadi susah jalan, sandalnya
nggak bisa nekuk," tutur Lidya (salah satu peserta) sambil terus berusaha
bergaya dalam balutan yukata.(nik) |
|