|
|
|
 |
|
s a n g g a r - o r
i g a m i |
|
|
Tak Hanya Melipat, Origami Adalah Matematika
Sumber: Jawa Pos, 21/8/2004
TOKYO - Sebuah kompetisi dan konvensi origami digelar di Jepang tiga hari
mulai kemarin. Acara itu diadakan untuk menghapus kesan bahwa seni melipat
kertas ala Jepang itu hanya mainan anak-anak. "Ada stigma yang mengatakan
bahwa origami adalah mainan anak-anak. Tetapi, sesungguhnya ini adalah seni,"
kata salah seorang peserta, Joseph Wu, yang berasal dari Kanada. |
|
|
|
|
Acara
tersebut dihadiri 400, yang datang dari penjuru dunia, dari Australia hingga
Prancis. Masing-masing menunjukkan keahliannya melipat kertas menjadi
bentuk-bentuk menarik.
Wu, misalnya, menunjukkan karyanya berbentuk naga lengkap dengan sayapnya.
Ada peserta lain yang membentuk salah seorang tokoh dalam film Star Wars,
Yoda.
Origami dikenal sejak 1.600 tahun lalu. Awalnya adalah aturan membuat hiasan
dari selembar kertas tanpa bantuan lem dan gunting. "Kini dibutuhkan lebih
banyak kertas meski tetap tanpa lem dan gunting," jelas Wu, yang tinggal di
Vancouver.
Untuk membuat naga, Wu membutuhkan lima helai kertas. "Saya mungkin bisa
membuatnya dengan menggunakan satu kertas. Tapi, saya tertarik untuk
memperoleh hasil yang maksimal," terangnya.
Saat ini, origami memiliki banyak pola, dan akhirnya memunculkan lebih
banyak peminat. "Orang semakin banyak yang memberikan perhatian. Memang
tidak seperti seni lukis atau pahat. Namun, origami juga merupakan
keterampilan dan seni," papar Wu.
Origami juga mulai menjadi bahan pelajaran yang berkaitan dengan dimensi.
Geometri origami menjadi pelajaran yang diminati di jurusan matematika di
Institut Teknologi Massachusetts.
"Origami adalah jalan terbaik untuk mempelajari matematika. Seni melipat
tersebut mencakup cabang-cabang matematika, seperti teori angka, kalkulus,
kombinasi, analisis masalah, dari trigonometri sampai aljabar abstark," kata
Tom Hull, pendiri dan profesor di Merrimack College, North Andover Maine.
Zaman dulu, origami dipercaya digunakan untuk menciptakan ornamen suci di
Pemakaman Utama Ise, yang merupakan pusat agama Shinto Jepang. Seni tersebut
turun-menurun, dari satu generasi ke generasi yang lain, di antara anggota
samurai. (ap/tia) |
|