|
|
|
 |
|
s a n g g a r - o r
i g a m i |
|
|
Origami di Citta
Sumber: Jawa Pos,
02 Juni 2004
Busana yang diusung desainer Oka Diputra kali ini mirip dengan busana kimono
asal Jepang. Origami di Citta, begitulah kira-kira namanya. Benar-benar
mirip memang tidak. Namun karakternya tidak lepas dari seni ikat mengikat
dan lipat melipat yang khas Jepang itu.
|
|
|
|
|
Pada
kesempatan yang berbeda, busana ini ditampilkan di Jakarta Fashion & Food
Festival (JFFF) 2004 dan Bali Fashion Week (BFW) V 2004, pekan lalu.
Yang menarik mungkin karena busana ini cukup ringkas dan tidak membutuhkan
waktu yang terlalu lama untuk memakainya. Hanya dililitkan ke tubuh, dilipat
di beberapa bagian, kemudian diikat.
Menurut Oka, Origami bermakna lipat-melipat, sementara Citta dalam istilah
Sansekerta adalah sutra. "Setiap rancangan selalu ada yang saya tonjolkan.
Tidak terpaku pada pemilihan warna, namun juga sisi material maupun detail
pelengkapnya," ungkap Oka ketika itu.
Pada koleksinya sekarang Oka memilih warna-warna cerah, seperti merah
maroon. Tampilan material sutra yang ringan melayang dipakai pada JFFF 2004.
Sementara pada BFW 2004, material organza dan sutra brokrat menjadi pilihan.
Material ini, menurut Oka punya sifat lebih berat dibandingkan dengan sutra.
Meski memaksimalkan pada warna merah maroon, Oka tidak lantas meninggalkan
warna lain, seperti putih yang bergradasi warna merah. "Saya tidak mau
busana saya terlihat sepi warna. Meski hitungannya dengan 2 warna, sudah
lebih dari cukup. Terpenting bisa memberikan kesan yang lain, jadi lebih
elegan dan berwibawa," tukasnya.
Model yang dibuat Oka cukup bervariasi. Namun pada potongan bahannya, Oka
lebih mengkhususkan membuat potongan miring pada kainnya. "Supaya saat
dikenakan, busana ini bisa melekat di badan," ujar desainer yang busananya
dipatok tidak lebih dari Rp 1,5 juta ini.(tut)
|
|